Imamwahyudiono's Blog
Just another WordPress.com weblog

Apr
09

Masih Ada Adiling Pengeran!

SETAHUN silam ketika masih sugeng, tatkala menerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, penyair WS Rendra mengatakan, ”Untuk keluar dari kalatidha dan kalabendu, bukan ratu adil yang dibutuhkan, melainkan hukum yang adil.” Tapi itu saja pun belum cukup, ketika hukum justru berada di tangan penghukum yang tidak ingkar pada keadilan. Lantas, di mana lagi pengadil sejati bisa dicari?

Terhadap ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang menimpanya, ora bisa bilang, ”Trimaa sing nglakoni ora bakal trima sing momong.” Artinya, kalaulah yang menjalani bisa menerima, pastilah yang ”mengasuh” tak akan bisa menerimanya. Siapakah sing momong itu?
Tak ada jawaban tunggal untuk pertanyaan ini, sekalipun jika dilacak secara hierarkis, pastilah Sang Adrikodrati yang menjadi puncak dari segala jawaban. Gusti Allahlah yang mahaadil, juga yang maha memiliki keadilan itu sendiri.
Di satu sisi, ungkapan tersebut mencerminkan kepasrahan, jika tak boleh dikatakan sebagai wujud keputusasaan lantaran ketidakmampuan untuk mengatasi kekuatan yang lebih besar. Namun di sisi lain, terbersit harapan bahwa pastilah ada kekuatan yang masih bisa diharapkan untuk menampakkan kedigdayaannya guna menegakkan keadilan. Keadilan pasti akan datang, hanya ia muncul dari mana serta mewujud dalam rupa apa, itulah yang belum jelas benar.
Apakah sikap pasrah sumarah seraya berharap campur tangan sing momong merupakan sikap yang paling jamak? Hanya itukah muara kebuntuan tatkala tata hukum yang semestinya berpihak pada keadilan dan berjalan di tangan pengadil yang paramarta justru menyeleweng? Tidak!
Bukan dalam sikap pasiflah keadilan dan pengadilan ”lain” itu akan
hadir. Ia harus diikhtiarkan, ia harus ditebus dengan semacam laku nyata. Bukan dengan menyepi di keheningan hutan dan gua, bukan pula dengan mengurung diri dalam rumah seraya mati geni atau mutih.
Pengadilan ”lain” itu tak akan teraih tanpa diupayakan dengan tapa ngrame. Ya, bertapa dalam keriuhan. Persis sebagaimana yang digambarkan dalam ungkapan Sultan Agung: mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi (mengasah ketajaman budi, membasuh sumber kekotoran bumi).
Ketika pengadilan mainstream tak lagi bisa diharapkan untuk memberikan pengadilan, pengadil bayanganlah yang mesti menjadi tempat berpaling. Dan untuk itu, sekali lagi,  tak akan pernah datang sendiri tanpa diikhtiarkan.
Pengadilan Ramabargawa
Dalam kisah pewayangan, betapa Ramabargawa, yang juga berjuluk Parasurama, adalah sosok yang mengalami sakit hati tiada terkira tatkala mesti menyaksikan para kesatria yang semestinya njejegke adil, yang seharusnya memegang pradata agung negari, justru mengoyak-koyak rasa keadilan itu sendiri. Alih-alih para pangembating praja itu berjalan di atas jalur keadilan, justru mereka sendirilah yang mementaskan ketakadilan itu sekaligus jadi pemerannya.
Mulanya Renuka, sang ibu, berbuat kesalahan dalam melayani Jamadagni sehingga lelaki itu murka. Jamadagni kemudian memerintah putra-putranya membunuh ibu mereka. Dia berjanji akan mengabulkan apa pun permintaan mereka.
Tak ada anak Jamadagni yang sanggup memenuhi perintah itu. Jamadagni kian murka dan mengutuk mereka jadi batu. Sebagai putra termuda dan paling cerdas, ternyata Parasurama bersedia membunuh ibunya. Namun setelah kematian Renuka, dia menagih janji Jamadagni. Dia meminta Jamadagni menghidupkan dan menerima Renuka kembali serta mengembalikan keempat kakaknya ke wujud manusia. Jamadagni pun bangga dan memenuhi semua permintaan Parasurama. Parasurama telah berhasil mengikhtiarkan keadilan dengan jaln yang paling rempit!
Kisah Parasurama tak berhenti sampai di situ. Ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah kaum kesatria yang gemar berperang satu sama lain. Keadilan bukannya mereka tegakkan, tapi justru mereka porak-porandakan. Parasurama pun bangkit menumpas mereka yang seharusnya berperan sebagai pelindung kaum lemah. Tak terhitung ksatria, baik raja maupun pangeran, yang tewas terkena kapak dan panah Ramaparasu.
Tekad Parasurama menumpas habis seluruh kesatria yang hanya menjadi leletheking jagad gelah-gelahing bumi.
Setelah merasa cukup, Parasurama mengadakan upacara pengorbanan suci di Samantapancaka. Kelak tempat tersebut terkenal dengan nama Kuruksetra dan dianggap sebagai tanah suci yang menjadi ajang perang saudara besar-besaran antara Pandawa dan Kurawa.
Sebenarnya ada alasan khusus mengapa Parasurama menumpas habis kaum ksatria. Itu karena raja Hehaya, Kartawirya Arjuna, yang telah merampas sapi milik Jamadagni. Parasurama marah dan membunuh raja tersebut. Namun pada kesempatan berikutnya, anak-anak Kartawirya Arjuna membalas dendam dengan membunuh Jamadagni. Kematian inilah yang menambah besar rasa benci Parasurama terhadap semua golongan ksatria.
Pemokongan Saridin
Beda lagi cara yang ditempuh Saridin, seorang rakyat jelata dalam certa rakyat dari wilayah Pati Syeh Jangkung. Pengadilan Kadipaten telah cukup menghadirkan bukti dan saksi bahwa Saridinlah pembunuh kakak iparnya, Branjung.
Bukti dan saksi makin diperkukuh oleh muslihat yang dibangun oleh Petinggi Miyono, penguasa di desa yang ternyata mengincar istri Saridin. Kewibawaan pradata agung kadipaten juga mesti dijaga meski harus menafikan rasa keadilan substansial yang digenggam dan diyakini Saridin.
Di depan Sang Adipati, pada tingkat retorika, Saridin bisa saja membuat segenap pengadil mati kutu. Namun pengauasa tetaplah yang lebih kuwasa. Saridin boleh saja, dengan nalar saminnya mengatakan bahwa bukan kakak iparya yang ia bunuh, melainkan macan. Namun penguasa tetap saja punya cara untuk menjeratnya, karena persoalannya tinggal mau atau tidak.
Ketika pada tahap pertama nalar lenceng galeng itu tak beroleh hasil, berserah pada ìkeadilanî versi penguasa pun diikuti. Tapi lagi-lagi, justru di sinilah ketidakadilan demi ketidakadilan terus-menerus terpentaskan. Maka, tiada jalan lain kecuali menarik diri, lari, dan baru hadir kembali ketika merasa sudah cukup memiliki kekuatan baru untuk mengembalikan keadilan di kadipaten pada ”khittah”-nya.
Tentu jika hendak digenapi, masih ada sejarah perlawanan tokoh Kutil menegakkan keadilan di wilayah Tegal, siasat Mutamakim menghadapi pengadil keraton, atau bahkan Raden Legawa yang mesti bermetamorfosis sebagai Joko Geger dalam lakon Perampok-nya Rendra.
Ya, selalu ada pengadil bayangan yang bisa diikhtiarkan, meski hasilnya tidak selalu tampak serta merta. Namun dengan upaya macam itulah sebenarnya siapa pun pantas bersikap optimistis bahwa adiling Gusti itu selalu ada.

Apr
03

Seringkali kita kecewa ketika membeli sebuah produk elektronik, khususnya sound system, ternyata suara yang dihasilkan tidak seperti yang kita harapkan. Untuk menghindari hal tersebut, ada beberapa tips yang berguna dalam memilih produk sound system yang baik.

Berikut beberapa tips perlu Anda perhatikan :

1. Pilihlah besar daya yang sesuai dengan kebutuhan anda. Untuk penggunaan pribadi seperti latihan dll, cukuplah memilih amplifier dengan daya 15-20 watts. Pada kebanyakan amplifier berdaya kecil seperti ini telah tersedia fasilitas jack Head Phone (misal : Amplifier Guitar Laser 20) yang sangat berguna terutama bagi kawula muda yang punya kebiasaan bermain musik hingga tengah malam. Dengan memanfaatkan saluran untuk Head Phone ini, maka dijamin seisi rumah yang lain ataupun tetangga tidak akan terganggu “atraksi” kita.

Untuk penggunaan acara pesta ( Pesta Pernikahan / Wedding Party, Ulang Tahun, Acara Gathering & Acara Promosi ) anda akan memerlukan daya yang lebih tinggi lagi yaitu sedikitnya 125 watts atau lebih, karena amplifier ini akan dapat sekaligus kita gunakan sebagai monitor dari instrument musik yang sedang kita mainkan.

2. Pilihlah amplifier yang berkualitas baik. Bila kita membutuhkan amplifier untuk keyboard, maka sangat disarankan untuk memilih amplifier yang tidak merubah warna suara asli yang dihasilkan oleh keyboard tsb (flat). Ada banyak amplifier yang menghasilkan suara yang berbeda dari suara aslinya, bila hal ini terjadi maka akan terjadi suara-suara yang lain yang akan mengurangi karakter asli dari bunyi yang sebenarnya dihasilkan keyboard dikarenakan terjadinya penambahan atau pengurangan terhadap frekwensi tertentu. Biasanya hal ini terjadi pada frekwensi yang sangat rendah (low bass) atau frekwensi yang sangat tinggi (high treble).

3. Model dan penampilan amplifier dapat menjadi pertimbangan terakhir. Model yang diinginkan akan bergantung pada selera masing-masing. Model yang bagus menurut seseorang, belum tentu bagus juga menurut orang yang lainnya.

Pada kebanyakan musisi profesional model akan menjadi pilihan yang terakhir atau tidak terlalu dipentingkan. Mereka akan lebih mementingkan kualitas dan fasilitas dari amplifier.

4. ada baiknya anda bertanya kepada rental sound / sound sistem atau sewa alat musik, karena mereka termasuk orang yang berpengalaman, sehingga anda tidak akan kecewa.

Apr
03

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.